Kerja Cerdas, Istirahat Berkualitas: Rahasia Menjaga Keseimbangan Hidup di Era Digital
ilustrasi work life balance.-dok. istimewa-
Menjemput Keseimbangan Hidup yang Hakiki
Banyak orang mengira work-life balance berarti membagi waktu tepat 50:50 antara kantor dan rumah. Faktanya, keseimbangan hidup bukan soal angka di jam dinding, melainkan soal ketenangan pikiran saat Anda berada di kedua tempat tersebut.
Sering kali, kita merasa bersalah saat sedang beristirahat karena memikirkan pekerjaan, dan merasa bersalah saat bekerja karena kurang waktu untuk keluarga. Untuk memutus lingkaran setan ini, berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda terapkan:
1. Buat Batasan yang Tegas (Set Boundaries)
Tanpa batasan, pekerjaan akan "tumpah" ke waktu pribadi Anda. Jika Anda bekerja dari rumah (WFH), tentukan jam berapa laptop harus ditutup dan kapan Anda berhenti membalas pesan terkait pekerjaan.
Tips: Komunikasikan batasan ini dengan rekan kerja. Misalnya, "Saya akan membalas pesan ini besok pagi di jam kantor ya."
2. Berhenti Memuja Kesibukan (Stop Glorifying Busy)
Menjadi sibuk tidak sama dengan menjadi produktif. Terkadang kita merasa "hebat" saat lembur setiap hari, padahal itu bisa jadi tanda manajemen waktu yang buruk atau beban kerja yang tidak manusiawi.
Fokus: Selesaikan tugas prioritas di jam kerja agar Anda tidak perlu membawa "oleh-oleh" pekerjaan ke rumah.
3. Teknik "Saklar" Mental
Belajarlah untuk mematikan mode kerja saat Anda melangkah keluar dari kantor atau menutup laptop. Lakukan sebuah ritual kecil sebagai tanda transisi, seperti mandi, mengganti pakaian, atau mendengarkan musik favorit.
Tujuannya: Memberi sinyal pada otak bahwa peran Anda sebagai "karyawan" sudah selesai, dan sekarang saatnya menjadi "diri sendiri" atau "anggota keluarga".
4. Prioritaskan Self-Care Tanpa Rasa Bersalah
Anda tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong. Menjaga kesehatan fisik dan mental bukan sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan agar Anda tetap produktif dalam jangka panjang.
Sumber: