Masyarakat Adat Imekko Waspada, Puluhan Ekskavator Tiba di Pelabuhan Jamarema
Kapal Tongkang Bawa Ekskavator Tiba di Pelabuhan Jamarema---dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
PAPUABARAT, DISWAY.ID - Kedatangan kapal tongkang yang membawa puluhan alat berat jenis ekskavator di Pelabuhan Jamarema, Distrik Metemani, Kabupaten Sorong Selatan, memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat setempat.
Alat-alat berat tersebut diduga berkaitan dengan rencana pembukaan lahan hutan dalam skala besar di wilayah adat Imekko.
Luas area yang disebut-sebut akan dibuka bahkan mencapai sekitar 90.000 hektare, memunculkan keresahan terkait potensi kerusakan lingkungan dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat.
Kepala Suku Besar Imekko, Yohoan Bodory, mengimbau seluruh masyarakat adat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas alat berat yang masuk ke wilayah mereka.
Mengutip dari website Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, ia menegaskan bahwa setiap kegiatan yang berpotensi membuka hutan adat harus dihentikan sementara hingga ada kejelasan resmi serta persetujuan dari masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.
Menurut informasi yang beredar, alat berat tersebut diduga terkait dengan aktivitas perusahaan ANJ Group yang disebut-sebut memiliki rencana pengembangan perkebunan berskala luas di kawasan tersebut.
BACA JUGA:Fabrizio Romano Ungkap Masa Depan John Stones, Tinggalkan Man City Secara Gratis
Masyarakat Diminta Bertindak Bijak
Yohoan menyampaikan bahwa masyarakat adat saat ini berada dalam kondisi siaga. Ia meminta warga untuk segera bertindak apabila menemukan aktivitas mencurigakan terkait mobilisasi alat berat.
Langkah yang dianjurkan adalah menghentikan aktivitas tersebut secara adat dan melaporkannya kepada lembaga adat, kepala suku, serta pemerintah daerah di Kabupaten Sorong Selatan.
Menurutnya, upaya ini penting sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian hutan adat yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Yohoan menegaskan bahwa hutan adat bukan sekadar lahan kosong yang bisa dimanfaatkan secara sepihak. Bagi masyarakat Imekko, hutan merupakan bagian dari identitas, sejarah, serta sumber pangan yang diwariskan turun-temurun.
Ia juga menekankan bahwa masyarakat adat tidak menolak pembangunan, selama tidak merusak lingkungan dan tetap menghormati mekanisme adat yang berlaku.
Masuknya alat berat dalam jumlah besar tanpa komunikasi terbuka dinilai memicu kecurigaan dan berpotensi menimbulkan konflik di lapangan.
BACA JUGA:Kunjungan Wapres Gibran ke Papua Barat Daya Dinilai Strategis untuk Percepatan Pembangunan Papua
Komitmen Menjaga Warisan Leluhur
Sumber: aliansi masyarakat adat nusantara