Kenali Tiga Jenis Bullying yang Sering Terjadi di Sekolah dan Media Sosial

Kenali Tiga Jenis Bullying yang Sering Terjadi di Sekolah dan Media Sosial

Stop Perundungan di Sekolah! Kenali Jenis Bullying dan Dampaknya bagi Anak-gpointstudio-magnific

PAPUABARAT, DISWAY.ID - Kasus bullying atau perundungan masih menjadi persoalan serius yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, pergaulan, hingga media sosial.

Tidak sedikit anak menjadi korban ejekan, hinaan, bahkan kekerasan fisik yang meninggalkan luka mendalam.

Ucapan seperti “gendut”, “jelek”, hingga hinaan lain yang merendahkan fisik seseorang sering kali dianggap candaan. Padahal, kalimat seperti itu dapat memicu rasa malu, sedih, takut, bahkan trauma bagi korban.

Perundungan tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga memengaruhi pelaku dan orang-orang yang menyaksikannya. Banyak saksi bullying merasa takut untuk membantu karena khawatir akan menjadi target berikutnya.

Bullying sendiri merupakan tindakan mengintimidasi, mengolok, mengancam, atau menyakiti orang lain yang dilakukan secara sengaja dan berulang. Biasanya pelaku merasa lebih kuat, lebih berkuasa, atau memiliki pengaruh lebih besar dibanding korbannya.

Tindakan ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah, rumah, tempat bermain, hingga dunia digital. Bahkan, kasus cyber bullying kini semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan anak dan remaja.

Secara umum, ada tiga jenis bullying yang paling sering terjadi.

Pertama adalah bullying verbal, yakni perundungan melalui ucapan. Bentuknya bisa berupa hinaan, ejekan, pemberian julukan buruk, ancaman, hingga komentar bernada rasis.

Kedua adalah bullying fisik. Jenis ini meliputi tindakan memukul, menendang, mendorong, memalak, mencuri barang milik korban, atau melakukan sentuhan yang tidak diinginkan.

Ketiga adalah cyber bullying atau perundungan di dunia maya. Pelaku biasanya menggunakan media sosial, aplikasi pesan, atau email untuk mempermalukan, menghina, dan mengancam korban secara online.

Dampak bullying terhadap kesehatan mental anak tidak boleh dianggap remeh. Korban bisa mengalami stres, kehilangan rasa percaya diri, sulit bersosialisasi, hingga depresi berat. Dalam beberapa kasus, tekanan psikologis akibat perundungan bahkan dapat memicu tindakan nekat.

Tak hanya itu, anak yang terus menjadi korban bullying juga berisiko tumbuh dengan trauma berkepanjangan. Ironisnya, sebagian korban dapat berubah menjadi pelaku ketika dewasa karena menyimpan dendam dan tekanan emosional.

Karena itu, tindakan perundungan harus segera dihentikan dan tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Jika menjadi korban bullying, anak perlu segera melapor kepada orang tua, guru, atau pihak berwenang agar masalah dapat ditangani lebih cepat.

Sementara bagi saksi perundungan, melapor bukan berarti mengadu, melainkan bentuk kepedulian terhadap sesama. Langkah tersebut justru dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih buruk.

Sumber: