Jangan Asal Simpan Obat Saat Gelombang Panas, Risiko Efeknya Bisa Berbahaya

Jangan Asal Simpan Obat Saat Gelombang Panas, Risiko Efeknya Bisa Berbahaya

Insulin hingga Inhaler Asma Bisa Terganggu Akibat Suhu Panas Tinggi-wirestock-Freepik

PAPUABARAT, DISWAY.ID - Gelombang panas yang tengah melanda Inggris memunculkan kekhawatiran baru di sektor kesehatan.

Suhu tinggi ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas dan efektivitas sejumlah obat-obatan umum yang digunakan masyarakat.

Peringatan tersebut disampaikan spesialis kesehatan dari Landys Chemist, Rhysa Phommachanh. Ia menjelaskan bahwa beberapa obat penting seperti insulin, EpiPen, hingga inhaler asma berpotensi mengalami penurunan fungsi apabila terpapar suhu panas berlebihan.

Menurut Rhysa, insulin menjadi salah satu obat yang paling rentan terhadap cuaca panas ekstrem. Paparan suhu tinggi dapat menyebabkan kandungan insulin mengalami degradasi sehingga kemampuannya dalam mengontrol kadar gula darah menjadi menurun.

“Insulin bisa kehilangan efektivitas ketika terkena suhu panas terlalu lama karena komposisinya dapat berubah,” jelas Rhysa.

Selain insulin, EpiPen yang biasa digunakan untuk menangani reaksi alergi berat juga memerlukan perhatian khusus. Obat tersebut diketahui dapat menjadi tidak stabil apabila disimpan pada suhu di atas 25 derajat Celsius.

Kondisi ini dikhawatirkan mengurangi keandalan EpiPen saat digunakan dalam keadaan darurat yang mengancam nyawa.

Tak hanya itu, inhaler asma juga disebut dapat terdampak akibat perubahan tekanan yang dipicu suhu panas tinggi. Pengguna inhaler disarankan lebih berhati-hati dalam menyimpan obat agar tetap bekerja optimal saat dibutuhkan.

Rhysa juga mengingatkan masyarakat yang mengonsumsi obat diuretik untuk lebih waspada selama cuaca panas berlangsung. Penggunaan diuretik dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan tubuh yang berujung pada dehidrasi.

Sementara itu, antihistamin juga disebut memiliki efek mengurangi produksi keringat sehingga tubuh menjadi lebih sulit mendinginkan diri saat suhu udara meningkat.

“Antihistamin dapat menyebabkan tubuh lebih cepat kering dan menghambat proses pendinginan alami tubuh ketika cuaca sangat panas,” ujarnya.

Di sisi lain, beberapa jenis antidepresan seperti sertralin dan fluoxetine juga dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur suhu tubuh. Kondisi ini membuat pengguna lebih rentan mengalami gangguan akibat paparan panas berlebihan.

Rhysa menambahkan bahwa sejumlah antibiotik tertentu juga dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari. Efek tersebut membuat risiko kulit terbakar menjadi lebih tinggi ketika beraktivitas di luar ruangan saat cuaca panas.

Untuk mencegah kerusakan obat, masyarakat disarankan menyimpan obat-obatan di tempat yang sejuk dan kering. Selain itu, pengguna juga perlu memperhatikan perubahan warna, bau, maupun tekstur obat sebagai tanda kemungkinan penurunan kualitas.

Sumber: