Bukan Malas, Ini Alasan Banyak Karyawan Memilih Quiet Quitting Demi Kesehatan Mental
quiet quitting, an illustration.-dok. canva-
papuabarat.disway.id - Dunia kerja dalam beberapa tahun terakhir diramaikan oleh sebuah istilah baru yang memicu perdebatan hangat di kalangan manajemen perusahaan dan praktisi sumber daya manusia (HRD): Quiet Quitting. Fenomena ini dengan cepat menyebar menjadi tren global, terutama di kalangan pekerja generasi milenial dan Gen Z.
Secara harfiah, quiet quitting bukan berarti karyawan mengundurkan diri dari pekerjaannya secara diam-diam. Fenomena ini merujuk pada perilaku di mana seorang karyawan memutuskan untuk berhenti melakukan pekerjaan yang melebihi tanggung jawab utamanya. Mereka memilih untuk bekerja "secukupnya"—datang tepat waktu, pulang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaan (job description), dan menolak untuk terlibat dalam budaya lembur atau kerja lembur yang tidak dibayar.
Banyak pihak dari sisi manajemen memandang tren ini secara negatif dan melabeli pelakunya sebagai karyawan yang malas, tidak memiliki ambisi, atau kurang loyal terhadap perusahaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang psikologi kerja, ada alasan mendasar yang jauh lebih kompleks: quiet quitting sering kali merupakan langkah pertahanan diri (self-defense) karyawan demi menyelamatkan kesehatan mental mereka.
Berikut adalah alasan logis mengapa banyak karyawan memilih jalan quiet quitting di era modern:
Akar Penyebab Karyawan Memilih Quiet Quitting
1. Menghindari Burnout akibat Hustle Culture
Selama bertahun-tahun, dunia profesional mengagungkan hustle culture—budaya yang menuntut seseorang untuk terus bekerja keras, mengorbankan waktu istirahat, dan selalu siap sedia dihubungi kapan saja demi meraih kesuksesan karir.
Dampak jangka panjang dari budaya ini adalah ledakan kasus burnout (kelelahan mental kronis).
Quiet quitting muncul sebagai reaksi penolakan terhadap eksploitasi waktu tersebut. Karyawan mulai sadar bahwa tubuh dan pikiran mereka membutuhkan batasan (boundaries) yang tegas agar tidak ambruk.
2. Upaya Menyeimbangkan Hidup (Work-Life Balance)
Pergeseran Paradigma: Bekerja adalah sarana untuk membiayai kehidupan, bukan tujuan utama dari kehidupan itu sendiri.
Banyak pekerja modern yang mulai merefleksikan kembali arti kebahagiaan mereka. Mereka tidak lagi bersedia mengorbankan waktu berharga bersama keluarga, hobi, atau perawatan diri hanya untuk mengejar penilaian performa yang tidak pasti. Dengan membatasi waktu kerja hanya pada jam kantor, mereka bisa merebut kembali kendali atas kehidupan pribadi mereka.
3. Ketidaksesuaian Antara Beban Kerja dan Kompensasi
Banyak kasus quiet quitting dipicu oleh rasa ketidakadilan (unfairness) yang dirasakan karyawan di tempat kerja. Tidak jarang perusahaan memberikan tambahan tanggung jawab, proyek baru, atau menuntut staf untuk menggantikan peran rekan kerja yang keluar tanpa adanya penyesuaian gaji atau insentif yang adil.
Sumber: