Lab-Grown Meat: Kapan Daging Kultivasi Laboratorium Siap & Halal Dikonsumsi?

Lab-Grown Meat: Kapan Daging Kultivasi Laboratorium Siap & Halal Dikonsumsi?

an illustration of lab grown meat.-dok. canva-

papuabarat.disway.id - Bayangkan menikmati sepotong steak lezat atau daging burger juicy tanpa ada satu pun hewan yang harus disembelih.

Ini bukan lagi sekadar adegan film sains fiksi, melainkan realitas baru di dunia teknologi pangan (foodtech) yang dikenal sebagai Lab-Grown Meat (daging kultivasi atau cultivated meat).

Daging kultivasi dibuat dengan mengambil sampel sel punca (stem cells) dari hewan hidup secara tidak menyakitkan, kemudian mengembangbiakkannya di dalam bioreaktor menggunakan nutrisi alami (asam amino, mineral, dan vitamin) hingga membentuk jaringan otot dan lemak yang persis seperti daging konvensional.

Secara teknis dan biologi molekuler, daging kultivasi 100% adalah daging asli, bukan produk pengganti berbasis nabati (plant-based meat) seperti kedelai atau jamur.

Namun, pertanyaan terbesarnya adalah: Kapan produk ini benar-benar siap dijual bebas secara massal, dan bagaimana status kehalalannya bagi konsumen muslim?

Tantangan Utama: Mengapa Belum Hadir di Pasar Supermarket Terdekat?

Meskipun beberapa negara (seperti Singapura dan Amerika Serikat) telah memberikan izin edar terbatas untuk restoran kelas atas (fine dining), ada dua benteng besar yang harus ditembus sebelum produk ini masuk ke piring makan malam masyarakat umum:

1. Masalah Skala Produksi dan Biaya (Scaling & Cost)

Pada awal perkembangannya, pembuatan satu patty burger daging laboratorium membutuhkan biaya ratusan ribu dolar AS.

Meskipun biaya produksi telah turun lebih dari 90%, harga daging kultivasi saat ini masih jauh lebih mahal dibandingkan daging sapi atau ayam ternak konvensional.

Dunia membutuhkan bioreaktor berkapasitas raksasa (gigafactories) untuk menghasilkan ribuan ton daging agar harganya mampu bersaing di pasar swalayan.

2. Ketersediaan Media Tumbuh Bebas Serum (Serum-Free Media)

Dahulu, media pembiakan sel menggunakan Fetal Bovine Serum (FBS) yang diambil dari janin sapi. Selain mahal dan terbatas, penggunaan serum ini ditentang karena tidak etis. Industri kini berfokus penuh mengembangkan media berbasis tumbuh-tumbuhan (plant-based media) yang efisien secara biaya dan etis.

Status Kehalalan Lab-Grown Meat: Perspektif Syariat Islam

Sumber: