Exynos Samsung Bangkit, dari Masalah Panas hingga Jadi Pesaing Snapdragon

Exynos Samsung Bangkit, dari Masalah Panas hingga Jadi Pesaing Snapdragon

Exynos 2500 Jadi Titik Balik, Samsung Mulai Bangkit di Persaingan Chipset---Dok. Samsung

PAPUABARAT, DISWAY.ID - Kebangkitan sebuah teknologi biasanya tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada proses panjang yang harus dilewati, termasuk ketika sebuah produk pernah mendapat banyak kritik sebelum akhirnya mampu kembali menunjukkan kualitasnya.

Kondisi tersebut juga menggambarkan perjalanan prosesor aplikasi atau Application Processor (AP) Exynos milik Samsung.

Exynos yang dahulu kerap mendapat sorotan karena persoalan panas dan efisiensi daya, kini mulai menunjukkan perkembangan hingga mampu bersaing di kelas chipset berperforma tinggi.

Perubahan itu mengingatkan pada sejumlah kisah kebangkitan besar di industri lain.

Salah satunya adalah T-Mobile di Amerika Serikat. Operator yang pernah berada di posisi terbawah di antara empat operator jaringan berbasis infrastruktur, yakni Verizon, AT&T, Sprint, dan T-Mobile, kemudian berkembang menjadi salah satu operator dengan pertumbuhan paling cepat sekaligus dikenal inovatif.

Kisah lain datang dari dunia bisbol ketika New York Mets secara mengejutkan memenangkan World Series 1969.

Tim yang sebelumnya identik dengan catatan buruk tersebut mampu mengejutkan banyak pihak dan menjadi juara pada tahun yang sama ketika manusia untuk pertama kalinya berhasil mendarat di Bulan.

Dalam skala yang berbeda, perjalanan Exynos juga menunjukkan pola serupa di industri teknologi.

Exynos Mulai Menantang Dominasi Qualcomm

Selama bertahun-tahun, AP Exynos menghadapi persaingan ketat dengan produk dari Qualcomm, MediaTek, dan Apple.

Namun, perkembangan teknologi semikonduktor membuat Samsung terus melakukan pembenahan terhadap rancangan chipset buatannya.

Ada satu keunggulan penting yang membedakan Samsung dari sejumlah pesaingnya.

Qualcomm, MediaTek, dan Apple termasuk perusahaan fabless. Artinya, perusahaan-perusahaan tersebut merancang chip, tetapi tidak memiliki fasilitas manufaktur semikonduktor sendiri untuk memproduksinya.

Produksi chip mereka banyak bergantung pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC.

Ketergantungan terhadap satu produsen semikonduktor dapat menjadi tantangan tersendiri ketika kondisi geopolitik global mengalami perubahan.

Sumber:

Berita Terkait