Diagnosis ADHD dan Autisme Jadi Perhatian, Ahli Soroti Medikalisasi Emosi Manusia

Diagnosis ADHD dan Autisme Jadi Perhatian, Ahli Soroti Medikalisasi Emosi Manusia

ADHD, Autisme, dan Depresi Disorot dalam Perdebatan Diagnosis Berlebihan-stockking-magnific

PAPUABARAT, DISWAY.ID - Perdebatan mengenai diagnosis gangguan kesehatan mental kembali menjadi perhatian setelah sebuah survei menemukan kekhawatiran di kalangan praktisi terhadap kecenderungan memedikalisasi pengalaman emosional manusia.

Sejumlah praktisi menilai perasaan yang umum dialami, seperti sedih dan cemas, berisiko dianggap sebagai tanda gangguan tanpa mempertimbangkan konteks dan tingkat keparahannya.

Menurut hasil survei tersebut, lebih dari empat dari lima praktisi kesehatan mental meyakini bahwa pengalaman atau pemikiran yang sebenarnya masih berada dalam rentang normal semakin sering dipandang melalui sudut pandang medis.

Fenomena ini dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai kemungkinan diagnosis berlebihan atau overdiagnosis pada sejumlah kondisi, termasuk kecemasan, depresi, autisme, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).

Survei yang ditugaskan oleh Dr. Sam Day, seorang psikolog eksperimental, juga menemukan pandangan bahwa gangguan mental dan kondisi perkembangan saraf terkadang digambarkan secara terlalu positif di masyarakat. Dalam situasi tertentu, kondisi tersebut bahkan dinilai dapat diperlakukan sebagai bagian dari identitas atau karakter yang dianggap menarik.

Day menyebut temuan itu mencerminkan kekhawatiran mengenai kecenderungan mengategorikan berbagai pengalaman psikologis sebagai masalah klinis.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya membedakan perasaan emosional yang lazim dialami manusia dengan kondisi yang benar-benar membutuhkan penanganan profesional. Menurutnya, kesedihan atau kecemasan tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mental, tetapi hal itu juga tidak menghapus kenyataan bahwa sebagian orang memang membutuhkan diagnosis dan dukungan yang tepat.

Perdebatan ini turut berkaitan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental dan kondisi neurodivergen. Kesadaran yang lebih luas dapat membantu seseorang mengenali gejala dan mencari pertolongan, tetapi penilaian klinis tetap diperlukan untuk menentukan apakah pengalaman yang dialami memenuhi kriteria suatu kondisi tertentu.

Tinjauan Pemerintah Soroti Risiko Salah Diagnosis

Persoalan diagnosis berlebihan juga muncul dalam sebuah tinjauan yang ditugaskan pemerintah dan dipimpin Prof. Peter Fonagy, psikolog klinis dari University College London.

Tinjauan tersebut menyoroti risiko overdiagnosis maupun misdiagnosis pada ADHD dan autisme. Overdiagnosis merujuk pada diagnosis kondisi yang sebenarnya tidak diperlukan atau tidak tepat diberikan, sedangkan misdiagnosis terjadi ketika kondisi seseorang dikenali secara keliru.

Kedua persoalan itu dapat menimbulkan tantangan dalam proses penanganan karena diagnosis yang akurat menjadi salah satu dasar untuk menentukan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan individu.

Namun, kekhawatiran mengenai kemungkinan diagnosis berlebihan tidak berarti bahwa ADHD, autisme, depresi, atau gangguan kecemasan merupakan kondisi yang tidak nyata. Diagnosis tetap perlu dilakukan oleh tenaga profesional dengan mempertimbangkan gejala, riwayat, dampak terhadap aktivitas sehari-hari, serta kriteria klinis yang berlaku.

Karena itu, tantangan dalam layanan kesehatan mental bukan sekadar mengurangi diagnosis, melainkan memastikan setiap orang memperoleh penilaian yang cermat. Pendekatan tersebut diperlukan agar kondisi yang benar-benar membutuhkan bantuan tidak terabaikan, sekaligus menghindari pelabelan klinis yang tidak sesuai.

Sumber:

Berita Terkait