Mengenal Komunikasi Pasif-Agresif dan Cara Berkomunikasi Lebih Sehat
ilustrasi communication.-dok. istimewa-
PAPUABARAT.DISWAY.ID - Komunikasi adalah fondasi utama dalam hubungan yang sehat, baik dengan pasangan, keluarga, maupun rekan kerja. Namun, tidak semua konflik muncul dari pertengkaran terbuka. Salah satu bentuk Komunikasi yang sering diabaikan tetapi berdampak besar adalah Komunikasi pasif-agresif.
Komunikasi pasif-agresif terjadi ketika seseorang tidak mengekspresikan perasaan atau ketidaksetujuannya secara langsung, melainkan melalui sikap diam, sindiran, atau perilaku tidak konsisten. Sekilas terlihat tenang, tetapi sebenarnya menyimpan emosi negatif yang bisa merusak hubungan dalam jangka panjang.
Apa Itu Komunikasi Pasif-Agresif?
Komunikasi pasif-agresif adalah pola komunikasi di mana seseorang menyembunyikan kemarahan atau kekecewaan, lalu menyalurkannya secara tidak langsung. Alih-alih bicara jujur, perasaan tersebut muncul dalam bentuk perilaku yang membingungkan atau menyakitkan.
Contohnya:
- Mengatakan “nggak apa-apa” padahal sebenarnya kesal
- Memberi jawaban singkat dan dingin
- Menunda sesuatu dengan sengaja
- Menggunakan sindiran halus
- Diam berkepanjangan tanpa penjelasan
Dampak Negatif Komunikasi Pasif-Agresif
Jika dibiarkan, komunikasi pasif-agresif dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti:
- Kesalahpahaman berulang karena masalah tidak pernah dibicarakan secara jelas
- Rasa lelah emosional bagi kedua belah pihak
- Menurunnya kepercayaan dalam hubungan
- Konflik yang menumpuk, hingga akhirnya meledak
Dalam jangka panjang, pola ini dapat membuat hubungan terasa tidak aman dan penuh tekanan.
Mengapa Seseorang Bersikap Pasif-Agresif?
Beberapa alasan umum seseorang menggunakan komunikasi pasif-agresif antara lain:
- Takut konflik atau konfrontasi langsung
- Tidak terbiasa mengekspresikan emosi
- Khawatir dianggap egois atau menyakiti orang lain
- Pola komunikasi yang terbentuk sejak kecil
Memahami penyebabnya penting agar kita bisa bersikap lebih empati, tanpa membenarkan perilaku yang merugikan.
Cara Menghadapi dan Mengurangi Komunikasi Pasif-Agresif
Agar hubungan tetap sehat, komunikasi pasif-agresif perlu dihadapi secara perlahan dan sadar:
- Ajak bicara secara tenang dan terbuka tanpa menyudutkan
- Validasi perasaan, baik milik diri sendiri maupun orang lain
- Gunakan komunikasi asertif, jujur tanpa menyakiti
- Tanyakan kebutuhan secara langsung, bukan menebak-nebak
- Bangun ruang aman untuk berdiskusi, tanpa takut dihakimi
Komunikasi yang sehat bukan tentang siapa yang menang, tetapi tentang saling memahami.
Sumber: