Gen Z Pilih Childfree, Biaya Hidup Mahal Jadi Alasan Utama
ilustrasi childfree-dok. istimewa-
papuabarat.disway.id - Pilihan hidup tanpa anak atau childfree semakin mengemuka di kalangan generasi muda, khususnya generasi Z. Bagi sebagian anak muda, keputusan untuk tidak memiliki anak bukanlah sikap ideologis, melainkan hasil pertimbangan rasional terhadap kondisi ekonomi dan ketidakpastian masa depan.
Riri (nama samaran), perempuan berusia 26 tahun, mengaku wacana hidup tanpa anak menjadi pertimbangan serius meski saat ini belum memiliki pasangan. Menurutnya, realitas biaya hidup yang tinggi di kota besar menjadi titik balik utama.
“Argumen terkuat kenapa aku kepikiran nggak punya anak itu karena biaya hidup dan pendidikan yang makin mahal,” kata Riri kepada Disway.id, Minggu, 4 Januari 2025.
Sebagai bagian dari generasi Z, Riri menyadari tantangan finansial yang dihadapi anak muda saat ini, mulai dari sulitnya memiliki rumah hingga ketidakpastian karier. Ia menilai keinginan memiliki anak harus sejalan dengan kesiapan ekonomi, bukan sekadar memenuhi tuntutan sosial.
Karena itu, Riri lebih membayangkan konsep hidup berpasangan dengan pola dual income with no kids. Menurutnya, fokus utama saat ini adalah meningkatkan kualitas hidup bersama pasangan. Jika di kemudian hari kondisi finansial memungkinkan, barulah ia mempertimbangkan memiliki anak.
“Kalau ternyata kondisinya segitu-segitu saja dan pasangan sepaham, ya childfree juga bukan masalah,” ujarnya.
Pandangan tersebut mencerminkan pergeseran nilai dari anggapan lama “banyak anak banyak rezeki”. Riri menilai memiliki anak tanpa kesiapan justru berisiko menimbulkan kesulitan, baik bagi orang tua maupun anak.
Soal masa tua, Riri juga tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan tradisional yang mengandalkan anak sebagai penopang. Ia memilih menyiapkan masa depan sejak dini melalui tabungan, investasi, dan jaminan pensiun seperti BPJS Ketenagakerjaan.
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Wihaji sebelumnya menyebut terdapat sekitar 71 ribu perempuan Indonesia yang ingin menikah namun memilih tidak memiliki anak. Menurutnya, keputusan tersebut dipicu kecemasan psikologis, ekonomi, serta kesehatan.
Sebagai respons, pemerintah menyiapkan program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) untuk membantu pasangan bekerja yang khawatir kehilangan karier setelah memiliki anak. Meski demikian, Wihaji menegaskan bahwa pilihan childfree tetap merupakan hak pribadi setiap individu.
Di sisi lain, data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta menunjukkan angka kelahiran di Jakarta pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini menegaskan adanya perubahan pola pikir generasi muda terhadap keluarga dan masa depan, di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian hidup.
Baca versi lengkapnya diliputan khusus Bisik Disway - Pilihan Childfree Gen Z dan Upaya Pemerintah Menjawab Kecemasan Anak Muda
Sumber: