Mengapa Patah Hati Terasa Sakit di Dada? Penjelasan Ilmiah di Balik 'Sakit Hati'
Patah Hati Ternyata Bisa Menyakiti Tubuh Secara Nyata---Freepik
PAPUABARAT, DISWAY.ID - Jatuh cinta mungkin satu-satunya 'jatuh' di dunia yang tidak tunduk pada hukum gravitasi.
Tidak ada dorongan dari atas, tidak ada tarikan ke bawah, yang ada justru rasa melayang.
Saat cinta datang, dunia seolah berubah warna. Udara terasa lebih ringan, wangi bunga lebih tajam, dan suara burung terdengar lebih nyaring dari biasanya.
Namun, tidak semua kisah cinta berakhir seperti yang kita bayangkan.
Ketika harapan bertabrakan dengan kenyataan, perlahan muncul rasa sesak di dada. Sulit dijelaskan, tapi sangat nyata. Banyak orang bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh kita saat patah hati? Dan mengapa rasa sakit itu hampir selalu terasa di “sini”, di area dada?
Cinta, Otak, dan Rasa Candu
Sebelum membahas rasa sakitnya, kita perlu memahami satu hal: jatuh cinta adalah proses biologis. Saat seseorang jatuh cinta, otak melepaskan berbagai zat kimia seperti dopamin, oksitosin, dan serotonin. Zat-zat inilah yang membuat kita merasa bahagia, bersemangat, dan terikat secara emosional.
Masalahnya, kondisi ini sangat mirip dengan kecanduan.
Dan seperti semua bentuk candu, ketika “sumbernya” tiba-tiba hilang, tubuh akan bereaksi. Rasa gelisah, cemas, hingga nyeri emosional muncul sebagai bentuk “gejala putus”.
Pada fase ini, bagian otak yang mengatur rasa sakit menjadi aktif—bagian yang sama yang menyala ketika kita mengalami luka fisik atau cedera. Inilah alasan mengapa patah hati benar-benar terasa sakit, bukan sekadar perasaan berlebihan.
Kenapa Disebut “Sakit Hati”, Bukan “Sakit Otak”?
Meski pusat emosi ada di otak, rasa sakit akibat patah hati sering kali terasa di dada atau leher. Ini bukan kebetulan.
Penelitian menunjukkan bahwa saat patah hati, terjadi konflik dalam sistem saraf otonom. Sistem yang mempercepat detak jantung dan sistem yang memperlambatnya justru aktif bersamaan. Ibarat menginjak pedal gas dan rem pada waktu yang sama.
Akibatnya, muncul sensasi nyeri, sesak, atau tekanan di dada—yang kemudian kita sebut sebagai “sakit hati”.
Dalam kondisi stres emosional yang sangat berat, tubuh bahkan bisa mengalami gangguan yang menyerupai serangan jantung, dikenal sebagai stress-induced cardiomyopathy. Menariknya, kondisi ini bisa terjadi bahkan pada orang tanpa riwayat penyakit jantung.
Patah Hati Itu Naluriah, Bukan Kelemahan
Merasa hancur setelah kehilangan orang yang dicintai bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, itu adalah naluri alami manusia.
Sumber: