Paylater untuk Sembako dan Pulsa: Tren Cicilan Harian yang Mengkhawatirkan

Paylater untuk Sembako dan Pulsa: Tren Cicilan Harian yang Mengkhawatirkan

ilustrasi BNPL.-dok. istimewa-

Fenomena ini tak hanya dimainkan perusahaan teknologi. Perbankan juga agresif masuk ke bisnis BNPL. Data OJK menunjukkan baki debet kredit BNPL perbankan per Desember 2025 tumbuh 19,32 persen menjadi Rp26,4 triliun, dengan 31,21 juta rekening.

Sementara sektor perusahaan pembiayaan mencatat pertumbuhan lebih tinggi lagi, mencapai 75,05 persen secara tahunan dengan total penyaluran Rp11,94 triliun.

Pertumbuhan pesat ini menjadi peluang sekaligus risiko. OJK menegaskan pengawasan diperketat agar ekspansi tidak mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Pergeseran Sosial: Normalisasi Utang Konsumtif

Fenomena paylater menunjukkan perubahan pola pikir masyarakat. Utang yang dulu dianggap beban kini dipandang sebagai bagian dari kelancaran transaksi.

Digitalisasi membuat proses berutang terasa tanpa emosi. Tidak ada rasa sungkan saat menekan tombol “cicilan 3 bulan”. Namun konsekuensinya tetap nyata saat notifikasi jatuh tempo berbunyi.

Yang perlu diwaspadai adalah normalisasi utang konsumtif untuk kebutuhan harian. Jika makan sehari-hari harus dicicil, ada persoalan yang lebih dalam — baik pada struktur ekonomi rumah tangga maupun pola konsumsi.

Antara Alat Bantu dan Ketergantungan

Paylater pada dasarnya adalah instrumen keuangan. Ia bisa membantu saat keadaan darurat atau untuk strategi arus kas usaha. Namun jika digunakan sebagai “oksigen” harian, risiko finansial jangka panjang tak terhindarkan.

Tantangan ke depan bukan sekadar pertumbuhan industri, melainkan literasi keuangan. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap klik hari ini tercatat dan akan memengaruhi masa depan finansial mereka.

Zaman boleh digital. Namun hukum ekonomi tetap sama: apa yang dipinjam harus dikembalikan, beserta bunganya.

Baca versi lengkapnya diliputan khusus Bisik Disway - Makan Tempe Pun Nyicil, Ketika Sembako dan Pulsa Jadi Tawanan Paylater

Sumber: