Asma Kambuh? Kenali 4 Golongan Obat Bronkodilator yang Sering Diresepkan Dokter
Mengenal Obat Bronkodilator untuk Asma, Cara Kerja, Jenis, hingga Efek Sampingnya-partystock-magnific
PAPUABARAT, DISWAY.ID - Asma merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan penyempitan bronkus akibat peradangan.
Kondisi ini membuat penderita mengalami sesak napas, batuk, hingga napas berbunyi mengi.
Untuk membantu mengendalikan gejala tersebut, dokter biasanya meresepkan obat bronkodilator.
Kelompok obat ini bekerja dengan melebarkan saluran napas sehingga udara dapat mengalir lebih lancar ke paru-paru.
Berikut beberapa golongan obat bronkodilator yang umum digunakan dalam terapi asma.
1. Agonis Beta-2
Golongan agonis beta-2 merupakan obat yang paling sering digunakan saat serangan asma maupun sebagai terapi pemeliharaan.
Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor beta-2 pada otot polos bronkus sehingga saluran napas menjadi rileks dan melebar. Hasilnya, penderita dapat bernapas lebih lega.
Agonis beta-2 dibagi menjadi dua kelompok, yakni:
- Short Acting Beta Agonist (SABA) seperti Salbutamol dan Terbutalin, yang bekerja cepat untuk meredakan serangan asma.
- Long Acting Beta Agonist (LABA) seperti Formoterol, Salmeterol, dan Procaterol, yang digunakan sebagai terapi jangka panjang.
Efek samping yang dapat muncul antara lain tangan gemetar, jantung berdebar, hingga peningkatan denyut jantung, meski keluhan tersebut umumnya bersifat ringan.
Sediaan agonis beta-2 tersedia dalam bentuk inhaler, tablet, maupun injeksi. Pada kondisi serangan asma akut, inhaler menjadi pilihan utama karena bekerja lebih cepat.
2. Metilxantin
Golongan berikutnya adalah Metilxantin, dengan contoh obat Teofilin dan Aminofilin.
Obat ini bekerja dengan menghambat enzim fosfodiesterase sehingga kadar cAMP meningkat. Mekanisme tersebut membantu melemaskan otot bronkus sekaligus mengurangi pelepasan zat-zat yang memicu peradangan.
Karena memiliki rentang dosis terapi yang sempit, penggunaan teofilin memerlukan pemantauan dokter agar tidak menimbulkan efek toksik.
Efek samping yang mungkin muncul meliputi:
- mual,
- muntah,
- sakit kepala,
- jantung berdebar,
- hingga gangguan irama jantung bila kadarnya terlalu tinggi.
3. Antikolinergik
Sumber: