NVIDIA dan C-BRAIN Manfaatkan AI untuk Percepat Penelitian Penyakit Alzheimer
C-BRAIN Kembangkan AI untuk Bantu Peneliti Temukan Terobosan Pengobatan Alzheimer-rawpixel-magnificx
PAPUABARAT, DISWAY.ID - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang baru dalam penelitian penyakit Alzheimer dan demensia.
Melalui kerja sama dengan NVIDIA, Consortium for Biomedical Research and AI in Neurodegeneration (C-BRAIN) mengembangkan teknologi yang ditujukan untuk membantu ilmuwan mengolah data penelitian, menyusun hipotesis, hingga mempercepat proses penemuan ilmiah.
Upaya tersebut menjadi penting karena jumlah penderita demensia di dunia terus menjadi perhatian. Saat ini, diperkirakan sekitar 57 juta orang hidup dengan kondisi tersebut.
Di sisi lain, para peneliti menghadapi tantangan berupa besarnya volume data ilmiah, keterbatasan tenaga ahli, serta proses analisis yang membutuhkan waktu panjang.
Alzheimer menjadi salah satu penyebab utama demensia dan masih termasuk persoalan kesehatan global yang belum memiliki solusi pengobatan untuk menghentikan, mencegah, atau membalikkan perkembangan penyakit secara menyeluruh.
Lebih dari 10 juta kasus demensia baru dilaporkan setiap tahun. Sementara itu, pendanaan penelitian Alzheimer melalui National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat disebut meningkat hingga tujuh kali lipat dalam 15 tahun terakhir, mencapai sekitar 3,9 miliar dolar AS per tahun.
Meski dukungan pendanaan terus bertambah, penelitian masih menghadapi sejumlah hambatan. Di antaranya adalah data yang tersimpan secara terpisah di berbagai institusi, terbatasnya temuan ilmiah yang berdampak besar, serta kesulitan mengolah hasil penelitian dalam jumlah sangat banyak.
C-BRAIN hadir untuk membantu menjawab persoalan tersebut melalui pemanfaatan AI. Konsorsium yang dipimpin Dr. Randall Bateman ini diluncurkan pada November 2025 dengan melibatkan 18 institusi dari berbagai bidang, mulai dari akademisi, organisasi filantropi, perusahaan farmasi, hingga lembaga penelitian.
Bateman, yang juga menjabat sebagai Charles F. and Joanne Knight Distinguished Professor of Neurology di Washington University School of Medicine, St. Louis, menilai AI dapat mengubah pendekatan penelitian biomedis secara mendasar.
“Kita memiliki peluang melalui kecerdasan buatan untuk melakukan penelitian yang secara fundamental berbeda dari apa pun yang pernah kita lakukan sebelumnya—sebuah pendekatan yang mempercepat penemuan demi membantu para pasien,” ujar Bateman.
Ia menggambarkan inisiatif tersebut sebagai “perangkat AI yang dibangun oleh ilmuwan, untuk para ilmuwan.”
Mengolah Data Gelap untuk Mempercepat Penelitian Alzheimer
Salah satu persoalan utama dalam riset Alzheimer adalah keberadaan data yang belum dimanfaatkan secara optimal. Data tersebut dikenal dengan istilah dark data atau data gelap.
Kategori ini mencakup hasil penelitian yang belum dipublikasikan, temuan dengan hasil negatif, serta kumpulan data milik institusi tertentu yang hanya dapat diakses melalui mekanisme dan izin khusus.
Padahal, informasi tersebut berpotensi memberikan kontribusi penting bagi penelitian. Namun, karena tersebar di berbagai tempat dan tidak seluruhnya tersedia untuk sistem AI, pemanfaatannya masih terbatas.
Sumber: