Benarkah Gangguan Kecemasan Harus Minum Obat Terus? Ini Penjelasan Psikiater

Benarkah Gangguan Kecemasan Harus Minum Obat Terus? Ini Penjelasan Psikiater

Pengobatan Gangguan Kecemasan: Kapan Perlu Obat dan Kapan Bisa Tanpa?-Drazen Zigic-Freepik

PAPUABARAT, DISWAY.ID - Gangguan kecemasan dan keluhan psikosomatik masih sering disalahpahami oleh masyarakat.

Banyak pasien yang datang dengan pertanyaan serupa: apakah gangguan kecemasan harus diobati seumur hidup? atau apakah bisa sembuh tanpa obat?

Hal ini disampaikan oleh dr. Andri, Spesialis Kedokteran Jiwa dari RS IMC Alam Sutera, Tangerang, yang kerap menangani pasien dengan keluhan kecemasan berkepanjangan dan gangguan psikosomatik.

Tidak Semua Gangguan Kecemasan Membutuhkan Obat

Menurut dr. Andri, tidak semua orang dengan gangguan kecemasan memerlukan pengobatan farmakologis. Rasa cemas, takut, dan waswas merupakan reaksi yang wajar, terutama di tengah tekanan hidup modern. Pengobatan baru dibutuhkan ketika kecemasan sudah mengganggu kualitas hidup dan tidak dapat dikendalikan secara mandiri.

“Pasien yang benar-benar membutuhkan obat sebenarnya tidak banyak. Tujuan pengobatan adalah membantu meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar menghilangkan rasa cemas,” jelasnya.

Mengapa Sulit Lepas dari Obat?

Banyak pasien mengeluhkan rasa tidak nyaman saat mencoba menghentikan obat. Hal ini bukan semata karena ketergantungan, melainkan karena otak belum dilatih menghadapi kecemasan tanpa bantuan obat.

Gangguan kecemasan umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Gejalanya sering berkembang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti:

  • Kepribadian perfeksionis dan sulit menerima ketidaksesuaian
  • Pola pikir yang cenderung overthinking
  • Trauma masa kecil yang belum terselesaikan
  • Lingkungan kerja atau sosial yang penuh tekanan

Jika faktor-faktor tersebut tidak ditangani, kecemasan dapat menetap dan membuat seseorang sulit lepas dari pengobatan.

Trauma dan Lingkungan Berperan Besar

Dr. Andri menegaskan bahwa tidak ada obat yang bisa menghapus memori trauma masa lalu. Pengobatan dan terapi bertujuan membantu pasien menjadi lebih tenang, menerima kondisi diri, dan beradaptasi dengan pemicu stres yang ada.

Selain itu, faktor lingkungan seperti pekerjaan yang menekan juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk segera mengubah situasi hidupnya, sehingga kecemasan dapat terus berulang.

Perubahan Mindset Jadi Kunci Pemulihan

Selain obat, perubahan pola pikir, kepribadian, dan gaya hidup menjadi faktor penting dalam pemulihan gangguan kecemasan. Perubahan perilaku yang berkelanjutan umumnya dimulai dari perubahan mindset, sebagaimana prinsip Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

“Perubahan gaya hidup bisa dilakukan, tetapi perubahan pola pikir membutuhkan proses yang lebih panjang. Tanpa itu, kecemasan bisa terus berulang,” ujar dr. Andri.

Obat Bukan Musuh, Konsultasi Adalah Kunci

Pada kondisi tertentu, ketika kecemasan sudah tidak terkendali dan mengganggu fungsi hidup, obat justru dapat menjadi alat bantu yang penting. Kecemasan yang tidak ditangani dengan baik berisiko berkembang menjadi depresi dan menurunkan produktivitas secara signifikan.

Karena itu, pasien disarankan untuk tidak takut terhadap pengobatan, tetapi selalu berkonsultasi secara rutin dengan dokter jiwa terkait terapi yang dijalani.

Sumber: