PAPUABARAT, DISWAY.ID - Pola puasa 18 jam dengan jendela makan selama 6 jam semakin populer sebagai metode menjaga kesehatan dan menurunkan berat badan.
Namun, masih banyak yang bertanya-tanya mengenai waktu makan terbaik, apakah lebih baik makan dari pagi hingga siang atau justru dari siang hingga malam.
Pembahasan mengenai pola makan saat puasa ternyata berkaitan erat dengan ritme hormon tubuh atau circadian rhythm.
Tubuh manusia memiliki mekanisme biologis yang mengatur kapan hormon tertentu bekerja lebih aktif, termasuk hormon yang memengaruhi metabolisme, energi, dan rasa lapar.
Pagi Hari Tubuh Lebih Aktif untuk Beraktivitas
Pada pagi hari, tubuh memproduksi hormon kortisol dan adrenalin dalam jumlah lebih tinggi. Kedua hormon ini membuat detak jantung meningkat, tubuh lebih waspada, dan energi lebih siap digunakan untuk bekerja maupun beraktivitas fisik.
Dalam kondisi tersebut, tubuh berada dalam fase katabolik atau fase pembakaran energi. Karena itu, sebagian ahli menilai pagi hari sebenarnya lebih cocok digunakan untuk bergerak, berpikir, dan berolahraga dibandingkan makan dalam jumlah besar.
Meski demikian, bukan berarti sarapan dilarang. Tubuh tetap bisa menerima makanan di pagi hari, hanya saja waktu tersebut dinilai kurang optimal jika dibandingkan dengan ritme hormon alami tubuh.
Sore hingga Malam Jadi Waktu Tubuh Lebih Rileks
Memasuki sore dan malam hari, hormon melatonin mulai meningkat. Tubuh perlahan memasuki fase relaksasi dan persiapan istirahat. Pada saat yang sama, hormon anabolik dan insulin juga bekerja lebih aktif.
Kondisi inilah yang membuat banyak orang merasa lebih nyaman dan tenang setelah makan malam. Ada hubungan erat antara otak dan sistem pencernaan yang memengaruhi suasana hati, rasa nyaman, hingga tingkat stres seseorang.
Makan dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks, menurunkan ketegangan, serta memberikan rasa hangat dan nyaman menjelang tidur.
Bagaimana Pola Makan Saat Puasa Ramadhan?
Dalam puasa Ramadhan, waktu makan memang terbatas pada malam hingga dini hari. Karena itu, sebagian orang memilih makan lebih banyak saat berbuka puasa dibandingkan saat sahur.
Menurut penjelasan tersebut, makan utama saat malam hari dinilai lebih sesuai dengan kondisi hormon tubuh. Sementara sahur sebaiknya dilakukan secukupnya agar tubuh tidak terlalu rileks pada pagi hari ketika aktivitas justru sedang tinggi.
Makan terlalu banyak saat sahur atau sarapan juga dapat memicu rasa kantuk dan menurunkan fokus kerja karena tubuh memasuki kondisi lebih santai setelah makan.
Stres dan Kurang Tidur Bisa Memicu Rasa Lapar
Selain pola makan, kualitas tidur dan tingkat stres juga sangat memengaruhi kondisi lambung serta nafsu makan. Banyak orang merasa sulit melewatkan sarapan karena kurang tidur atau memiliki tingkat stres yang tinggi.
Ketika stres meningkat, tubuh mengirim sinyal ke otak untuk meminta asupan makanan sebagai cara meredakan ketegangan. Karena itu, menjaga kualitas tidur dan mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjalani pola puasa yang sehat.