“Banyak data ilmu hayati yang tidak masuk ke dalam model-model kecerdasan buatan (AI) mutakhir,” ujar Ojewole. “Akibatnya, ada banyak potensi kecerdasan yang terbuang sia-sia.”
Untuk mengatasi persoalan itu, C-BRAIN mengembangkan infrastruktur yang memungkinkan sistem AI memanfaatkan data dari berbagai institusi tanpa harus memindahkan seluruh informasi ke satu lokasi.
Pendekatan tersebut menggabungkan sistem terpusat dan terfederasi. Melalui metode terfederasi, model AI dapat mempelajari data yang tersimpan di lingkungan masing-masing institusi dengan tetap memperhatikan ketentuan privasi pasien dan tata kelola data.
Pengembangan sistem ini membutuhkan dukungan komputasi berkapasitas tinggi. C-BRAIN saat ini mengoperasikan 64 GPU pusat data NVIDIA di fasilitasnya, yang terhubung dengan sejumlah node berbasis cloud melalui Microsoft Azure.
Kapasitas komputasi tersebut juga direncanakan terus ditingkatkan, termasuk dengan dukungan teknologi NVIDIA Blackwell.
Dalam kolaborasi ini, C-BRAIN dan NVIDIA turut mengintegrasikan sejumlah teknologi untuk mendukung penelitian biomedis. Di antaranya adalah platform pengembang terbuka NVIDIA BioNeMo serta kerangka kerja MONAI yang digunakan dalam pengembangan aplikasi AI untuk bidang kesehatan.
Bateman mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu mengoptimalkan kemampuan model AI sehingga menghasilkan manfaat nyata bagi penelitian Alzheimer.
“Kolaborasi C-BRAIN dengan NVIDIA bertujuan untuk membuka potensi model-model tersebut agar dapat menghasilkan sesuatu yang berdampak besar dan penting,” kata Bateman.
Ojewole juga menyoroti pentingnya optimalisasi teknologi, terutama untuk mendukung analisis spatial omics, yakni pendekatan yang mempelajari informasi biologis berdasarkan lokasi atau susunan spasialnya.
“Diperlukan banyak optimalisasi saat kita berupaya melampaui batasan kemampuan arsitektur pembelajaran mesin untuk spatial omics (analisis data biologis berbasis ruang) yang ada saat ini,” ujar Ojewole. “Perangkat lunak NVIDIA jelas akan memegang peranan penting dalam hal tersebut.”
OpenScientist dan InsightEngine Jadi Perangkat Riset Berbasis AI
Selain membangun infrastruktur komputasi, C-BRAIN juga mengembangkan dua perangkat berbasis AI untuk membantu pekerjaan para peneliti, yakni OpenScientist dan InsightEngine.
OpenScientist merupakan sistem AI berbasis agen atau agentic AI yang dirancang sebagai rekan kerja ilmuwan. Perangkat sumber terbuka ini dikembangkan bersama Lawrence Berkeley National Laboratory di bawah arahan ilmuwan peneliti Justin Reese.
Cara kerjanya dimulai ketika peneliti memasukkan pertanyaan penelitian beserta kumpulan data yang ingin dianalisis. Setelah itu, OpenScientist dapat membantu menyusun hipotesis, menjalankan analisis, dan menghasilkan temuan yang bisa diperiksa kembali.
Sistem tersebut dirancang bekerja secara semi-otonom. Artinya, AI dapat menjalankan sejumlah tahapan penelitian secara mandiri, tetapi hasilnya tetap dapat ditelusuri dan diaudit oleh peneliti.
Sementara itu, InsightEngine dikembangkan bersama 387 Labs. Platform sumber terbuka ini menggunakan AI agen untuk membantu menguji hipotesis berdasarkan literatur ilmiah dan informasi biomedis.
InsightEngine dapat menganalisis data yang diberikan pengguna, menelusuri jaringan pengetahuan biomedis, serta mencocokkan klaim dengan bukti ilmiah yang tersedia. Proses tersebut ditujukan untuk membantu mendeteksi kemungkinan halusinasi AI sebelum peneliti melanjutkan ke eksperimen yang membutuhkan biaya besar.