Probiotik, Prebiotik, Sinbiotik, dan Postbiotik: Apa Perbedaannya bagi Kesehatan Usus?

Probiotik, Prebiotik, Sinbiotik, dan Postbiotik: Apa Perbedaannya bagi Kesehatan Usus?

Kenali Perbedaan Probiotik, Prebiotik, Sinbiotik, dan Postbiotik untuk Pencernaan-pch.vector-magnific

PAPUABARAT, DISWAY.ID - Kesehatan pencernaan tidak hanya bergantung pada probiotik. Ada tiga istilah lain yang juga sering dibahas dalam dunia nutrisi, yakni prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik. Keempatnya memiliki fungsi berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan upaya mendukung kesehatan saluran pencernaan.

Probiotik banyak ditemukan dalam makanan fermentasi, seperti yoghurt, kimchi, sauerkraut, dan kefir. Sementara itu, prebiotik merupakan komponen makanan yang dimanfaatkan mikroorganisme menguntungkan di dalam usus.

Adapun postbiotik berasal dari mikroorganisme yang telah dinonaktifkan beserta komponen atau hasil olahannya yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Sinbiotik menggabungkan probiotik dan prebiotik dalam satu pendekatan.

Meski memiliki nama yang mirip, keempatnya tidak dapat dianggap sama. Jenis bahan, cara kerja, dan bukti manfaatnya perlu dipahami sebelum seseorang memilih makanan atau suplemen untuk mendukung kesehatan pencernaan.

1. Prebiotik, Sumber Makanan bagi Bakteri Baik

Prebiotik berperan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme tertentu yang hidup di saluran pencernaan. Ahli gizi Leslie Bonci menjelaskan kepada Daily Mail bahwa prebiotik dapat membantu mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan di dalam usus.

Senyawa ini dapat ditemukan dalam berbagai makanan nabati, seperti bawang bombay, bawang putih, daun bawang, asparagus, oat, lentil, biji-bijian utuh, biji rami, apel, dan pisang yang belum matang.

Asupan prebiotik yang memadai dapat membantu mendukung keseimbangan mikrobiota usus dan fungsi pencernaan. Beberapa jenis prebiotik juga telah diteliti karena potensinya membantu menjaga keteraturan buang air besar.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis pada 2024 terhadap uji klinis acak menemukan bahwa suplementasi frukto-oligosakarida (FOS), salah satu jenis prebiotik yang terdapat dalam bahan pangan seperti akar chicory dan bawang putih, dapat meningkatkan frekuensi buang air besar serta membantu mengatasi sembelit.

Namun, menambah asupan prebiotik secara berlebihan dalam waktu singkat dapat menimbulkan efek sebaliknya. Sebagian orang mengalami perut kembung, produksi gas berlebih, atau ketidaknyamanan pencernaan.

Bonci menyarankan agar peningkatan asupan serat dilakukan secara bertahap. Memenuhi kebutuhan melalui makanan sehari-hari dapat menjadi langkah awal sebelum mempertimbangkan suplemen.

2. Probiotik, Mikroorganisme Hidup dengan Manfaat Spesifik

Berbeda dari prebiotik, probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah memadai. Meski demikian, manfaatnya tidak selalu sama karena setiap spesies dan galur atau strain memiliki karakteristik berbeda.

Ahli gizi Amanda Godman Roll, yang berbasis di New York, menjelaskan kepada Daily Mail bahwa hasil penelitian terhadap satu galur probiotik tidak otomatis berlaku untuk galur lainnya.

American Gastroenterological Association juga menekankan pentingnya bukti ilmiah yang spesifik dalam menilai penggunaan probiotik untuk gangguan pencernaan. Dengan demikian, tidak semua produk probiotik dapat dianggap efektif untuk setiap kondisi, termasuk sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS).

Sejumlah galur telah diteliti untuk kebutuhan tertentu. Lactobacillus rhamnosus GG dan Saccharomyces boulardii, misalnya, memiliki bukti penelitian terkait pencegahan atau pengurangan risiko diare akibat antibiotik pada kondisi tertentu.

Sumber: