Pinjol dan Kesehatan Mental: Euforia Instan, Teror Digital, hingga Lingkaran Stres Finansial
ilustrasi loan.-dok. istimewa-
papuabarat.disway.id - Akses keuangan digital melalui fintech dan pinjaman online (pinjol) kini tak lagi sekadar soal transaksi. Di balik kemudahan “klik dan cair”, tersimpan dampak serius terhadap kesehatan mental, terutama di masyarakat perkotaan.
Psikolog klinis Dra. Retno Kumala, M.Psi., menjelaskan bahwa pencairan dana instan memicu lonjakan dopamin di otak—zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan.
“Efeknya mirip euforia sesaat seperti perjudian. Otak mengejar kepuasan instan dan mengabaikan pertimbangan rasional,” ujar Retno, Minggu, 28 Desember 2025.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan adiksi digital. Individu terdorong mengulang perilaku meminjam demi sensasi nyaman sementara, meski risikonya tinggi.
Retno juga menyoroti keterkaitan kecemasan dengan belanja impulsif melalui fitur paylater. Belanja kerap dijadikan mekanisme koping yang keliru.
“Belanja memberi ilusi kendali, padahal hanya sementara. Ketika tagihan datang, kecemasan justru meningkat,” jelasnya.
Teror Digital dan Tekanan Psikologis
Masalah kian kompleks saat pinjaman masuk fase gagal bayar. Penagihan agresif, pesan berulang, ancaman, hingga penyebaran data pribadi dinilai sebagai bentuk teror psikologis.
Psikolog klinis Dr. Aris Setiawan menyebut kondisi ini memicu hyper-vigilance, yakni rasa waspada berlebihan.
“Korban merasa terus diawasi. Rasa malu dan kehilangan harga diri bisa muncul ketika tekanan merambah ke lingkungan sosial,” kata Aris.
Stres finansial berat juga memicu fenomena tunnel vision. Fungsi logika melemah, sehingga pinjaman baru dianggap solusi cepat untuk menghentikan tekanan sesaat.
“Fokusnya hanya menghentikan teror hari ini, tanpa memikirkan dampak jangka panjang,” ujarnya.
Perempuan Lebih Rentan Terjerat
Sosiolog UGM Wahyu Kustiningsih menilai perempuan relatif lebih rentan terjerat pinjol akibat beban ganda ekonomi dan domestik.
Sumber: