The Broken Strings: Buku Aurelie Moeremans Bongkar Pola Child Grooming yang Membunuh Mental Korban
ilustrasi-dok. istimewa-
Buku The Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi lebih dari sekadar karya sastra. Ia menjelma sebagai cermin bagi banyak perempuan yang baru menyadari bahwa rasa “spesial” di masa lalu ternyata merupakan bentuk manipulasi yang perlahan merusak mental.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Child grooming kerap terjadi secara halus dan sistematis, membuat korban sulit mengenali bahwa mereka sedang dijebak dalam relasi berbahaya.
Grooming: Proses Pelan yang Mematikan
Psikolog Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si menjelaskan bahwa grooming adalah proses jangka panjang yang dibangun lewat pendekatan penuh perhitungan.
“Ini bukan kejadian instan. Pelaku membangun kepercayaan perlahan hingga korban bergantung secara emosional,” jelasnya.
Ia menegaskan, kekerasan seksual hanyalah tahap akhir. Fondasi utamanya adalah isolasi: korban dijauhkan dari keluarga dan teman, hingga hanya bergantung pada pelaku.
Budaya Paternalistik dan Media Sosial
Sosiolog Ida Ruwaida menilai praktik grooming semakin subur karena budaya paternalistik yang menempatkan orang lebih tua sebagai pihak yang harus ditaati.
Relasi kuasa ini, menurutnya, diperparah oleh media sosial yang meromantisasi hubungan tidak sehat. Anak-anak yang secara psikologis belum matang kerap tidak menyadari bahaya di balik perhatian berlebihan.
Studi FISIP UI bahkan menunjukkan anak usia SD hingga SMP sudah menjalin hubungan dengan remaja atau mahasiswa—sebuah celah besar bagi manipulasi.
Jerat Hukum Bagi Groomer
Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menegaskan, pelaku grooming bisa dijerat hukum meski belum terjadi kekerasan fisik.
“Percakapan digital bisa menjadi alat bukti yang sah,” jelasnya.
UU Perlindungan Anak memungkinkan proses pidana tetap berjalan, termasuk bila pelaku masih di bawah umur melalui mekanisme diversi.
Sumber: