Game Online dan Kecemasan Orang Tua: Setelah SMAN 72, Siapa yang Pegang Kendali?
ilustrasi gaming.-dok. istimewa-
PAPUABARAT.DISWAY.ID - Setiap sore, sepulang sekolah, dua dunia kerap berhadapan di rumah: anak-anak yang ingin bermain dan orang tua yang menyimpan cemas.
Bagi anak, game adalah hiburan. Bagi sebagian orang tua, game adalah wilayah asing yang harus dikendalikan.
Kecemasan itu menguat setelah tragedi SMAN 72 Jakarta. Peristiwa tersebut menjadi alarm bahwa ketika anak tak menemukan ruang aman—di rumah maupun sekolah—pelarian digital bisa berubah arah.
Orang Tua Mencari Jalan Tengah
Purnomo, ayah dua anak, memilih membatasi game yang mengandung kekerasan. Ponsel hanya boleh diakses akhir pekan, sementara game tertentu diblokir.
“Gerakan di game sering ditiru anak. Itu yang saya khawatirkan,” ujarnya.
Orang tua lain memilih cara berbeda. Winda Diana mendaftarkan anaknya ke TPA untuk menyeimbangkan kebiasaan bermain gawai. Daryanti mengarahkan anak ke olahraga renang agar lebih bersosialisasi.
Ada pula Reynas yang menetapkan aturan tegas: gadget hanya Sabtu–Minggu, dengan pengawasan penuh.
Sementara Aang Farhan memilih tidak memberi gawai sama sekali, menggantinya dengan buku bacaan.
Setiap keluarga menemukan caranya sendiri menghadapi dunia digital.
Psikolog: Game Bukan Faktor Tunggal
Psikolog Kasandra Putranto menegaskan, game kekerasan tidak otomatis membuat anak menjadi pelaku kekerasan. Namun tanpa pendampingan, game bisa memengaruhi cara anak memandang konflik.
“Yang berbahaya bukan gamenya, tapi ketika anak bermain tanpa regulasi emosi dan tanpa figur pendamping,” jelasnya.
Ia menyebut pengaruh bisa muncul pada cara pandang, emosi, hingga agresi ringan—namun faktor keluarga tetap yang paling menentukan.
Sumber: