PAPUABARAT.DISWAY.ID - Stres sering kali tidak datang sendirian. Jika dikelola dengan cara yang keliru, stres bisa berkembang menjadi burnout—kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang membuat seseorang kehilangan motivasi dan arah. Karena itu, penting untuk memahami bahwa mengelola stres bukan berarti terus bertahan, melainkan tahu kapan harus melambat.
Manajemen stres yang sehat seharusnya membantu kita tetap berfungsi tanpa mengorbankan kesehatan diri sendiri.
Apa Bedanya Stres Biasa dan Burnout?
Stres masih memungkinkan seseorang merasa tertantang dan termotivasi. Sementara burnout membuat segalanya terasa berat, bahkan hal yang dulu disukai.
Ciri burnout yang sering muncul:
- Kehilangan motivasi dalam jangka panjang
- Merasa lelah meski sudah beristirahat
- Emosi datar atau mudah tersulut
- Merasa “tidak pernah cukup” apa pun yang dilakukan
Jika stres terus dipaksakan tanpa pengelolaan yang tepat, burnout bisa menjadi dampak akhirnya.
Cara Mengelola Stres Tanpa Berujung Burnout
1. Berhenti Menyamakan Sibuk dengan Produktif
Terlalu sibuk bukan tanda sukses, justru sering menjadi pintu masuk burnout.
Fokus pada:
- Prioritas, bukan kuantitas
- Progress kecil tapi konsisten
- Kualitas hasil, bukan sekadar menyelesaikan banyak hal
Produktif yang sehat tidak menguras energi secara berlebihan.
2. Pasang Batasan yang Jelas
Burnout sering terjadi karena kurangnya batasan, baik pada pekerjaan maupun hubungan sosial.
Mulai dari:
- Menentukan jam istirahat yang tegas
- Tidak selalu tersedia untuk semua orang
- Berani menunda jika kondisi mental sedang tidak siap
Menjaga batasan adalah bentuk self-respect, bukan egois.